by

Belajar dari Gareng Untuk Kemajuan Bangsa

Kanti Walujo

*Kanti Walujo dan Ruslan Ramli

Gareng adalah satu dari tiga anak angkat Ki Semar. Di antara Bagong, dan Petruk, ia tertua dan selalu muncul dalam adegan goro-goro pada setiap pertunjukan wayang kulit. Goro-goro yang keluar pukul 00.00 selalu ditunggu-tunggu penonton karena kehadiran para punakawan  sangat menghibur.

Menurut Sri Mulyono (1989: 68-69), secara lahiriyah, makna punakawan adalah sebagai simbol atau sebagai pola struktur dari pembantu pimpinan yang sangat ideal. Artinya bahwa punakawan itu adalah abdi (bukan pelayan). Pelayan itu hendaknya memiliki watak wicaksana, dapat dipercaya, jujur, panjang nalar, dan tenang serta berani menghadapi segala keadaan dan persoalan baik yang rumit maupun yang pelik.

Sedang tingkah laku dan tindakan lahiriah punakawan berfungsi sebagai: (1) Penasihat atau cahaya tuntunan pada waktu ksatria dalam kesukaran/kebimbangan dan kegelapan, (2) Penyemangat pada waktu ksatria dalam keadaan putus asa, (3) Penyelamat pada waktu ksatria dalam keadaan bahaya, (4) Pencegah pada waktu ksatria dalam nafsu/emosional, (5) Teman pada waktu ksatria dalam kesepian, (6) Penyembuh pada waktu ksatria dalam sakit, (7) Penghibur pada waktu ksatria dalam kesusahan.

Dengan demikian punakawan yang terdiri atas  tokoh Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong mempunyai watak dan karakter yang berbeda-beda sebagai kawan sejati dalam keadaan senang maupun susah yang selalu menghibur tuannya.

Punakawan juga merupakan seorang pembimbing (pamomong) untuk para Pandawa supaya tetap berada pada jalan kebenaran dan kebaikan serta terhindar dari segala macam bahaya . Salah satu punakawan yang terkenal lucu dan menarik perhatian penonton adalah Gareng.

Gareng berasal dari bahasa Arab Naal Qariin oleh orang Jawa menjadi Nala Gareng yang berarti memperoleh banyak teman, dan tugas konsepsional para Walisongo sebagai juru dakwah (dai) ialah untuk memperoleh sebanyak-banyaknya kawan untuk kembali ke jalan Tuhan dengan sikap arif dan harapan yang baik (Sudarto, 2000:180).

Nala Gareng bentuk fisiknya tidak normal sebagai manusia biasa. Kakinya pincang, tangannya patah atau cekot dan matanya belok. Namun hatinya sangat mulia. Gareng memiliki pekerti yang sopan dan halus dalam bergaul. Sifat ini membuat dia menjadi tokoh wayang yang dihargai karena kebijaksanaannya. Hingga akhirnya ia dipercayai untuk menjadi penasihat Pandawa.

Dulu, Gareng berwujud seorang ksatria tampan bernama Bambang Sukodadi dari Padepokan Bluluktiba. Dia suka bertapa hingga ia sangat sakti. Ia selalu menantang duel kepada setiap ksatria yang ditemuinya. Suatu hari ketika baru bangun dari tapanya, ia bertemu ksatria bernama Bambang Panyukilan. Karena kesalahan yang tidak jelas, mereka berkelahi. Dari hasil perkelahian itu, tidak ada yang menang dan kalah, bahkan wajah mereka berdua rusak.

Akhirnya datanglah Batara Ismaya (Semar) yang dapat melerai mereka. Karena Semar adalah pamong Pandawa yang berjalan di atas kebenaran, maka Semar memberi nasihat kepadanya. Kemudian Semar mengangkat kedua ksatria tersebut sebagai anak angkatnya dan diajak mengabdi pada Pandawa. Masing-masing anak angkat tersebut diberi nama Gareng dan Petruk.

Cacat tubuh Gareng yang banyak (Purwadi, 2014: 126),  menunjukkan bahwa orang tersebut telah mulai semadi, mulai melihat ke dalam, lurus ke dunia serta ketuhanan. Mata kero pada tokoh Gareng menunjukkan ketelitian serta kecermatan dalam melihat dunia sekelilingnya. Dan tangan ceko melambangkan tidak adanya keinginan untuk memiliki apa yang dilihatnya, atau melambangkan sifat kejujuran. Sedang kakinya yang pincang melambangkan suatu tindakan yang telah diperhitungkan baik-buruknya dan sangat berhati-hati. Karena itu tokoh panakawan ini disebut Nala Gareng, melambangkan manusia yang jauh dari segala kesalahan serta jujur dan tidak milikan (ingin memiliki barang seperti orang lain).

Dalam realitas politik yang sangat dinamis pada 2019, apakah para elite politik Indonesia masih memiliki jiwa ksatria seperti Gareng? Gareng sebagai kawula selalu berhati-hati dalam bertindak seperti yang tersirat dari simbol kaki pincang. Sedangkan tangan Gareng yang ceko bermakna tidak suka mengambil hak milik orang lain.

Hal itu jauh dari kenyataan elite politik saat ini. Kita saksikan bagaimana penguasa mulai level paling bawah sampai atas tidak jujur Kekuasaan sekecil apapun sering diselewengkan, misalnya dana desa. Penanganan korupsi di Indonesia kian hari kian menunjukkan arah perubahan dengan banyaknya kasus korupsi yang diungkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Berdasarkan hasil pemantauan Indonesia Corruption Watch (ICW) sejak 2015-2018, kasus korupsi dana desa meningkat. Ada 181 kasus korupsi dana desa yang merugikan negara hingga Rp40,6 miliar. Beberapa kasus besar pun sukses dibongkar yang merugikan negara hingga ratusan triliun rupiah.

Kasus-kasus tersebut menurut Transprency International adalah (1) Kotawaringin Timur, dengan kerugian negara sebesar Rp5,8 triliun dan 711 USD, (2) Kasus BLBI menghabiskan dana negara yang hilang hingga Rp3,7 triliun, (3) Kasus E-KTP yang merugikan negara Rp2,3 triliun, (4) Kasus Proyek Hambalang dengan kerugian negara Rp706 miliar, (5) Mantan Presiden Soeharto telah melakukan tindak pidana korupsi terbesar dalam sejarah dunia. Kekayaan negara yang diduga telah hilang berkisar antara 15-35 miliar USD atau sekitar Rp490 triliun.

Selain eksekutif, performa legislatif juga belum menggembirakan. Di Senayan, rapor anggota dewan ketika rapat pleno maupun rapat-rapat lain masih kurang. Dari 560 legislator, sebanyak 342 anggota dewan tak hadir dalam rapat paripurna, 83 lainnya izin. Yang absen, mana tanggung jawabnya. Padahal rapat tersebut sangat penting karena membahas kebijakan fiskal RAPBN 2020.

Korupsi telah memasuki berbagai bidang dalam pemerintahan birokrasi, swasta, hukum, politik, dan berbagai bidang. Korupsi saat ini seperti tumor ganas yang telah menggerogoti tubuh manusia sehingga menjadi ancaman bagi masa depan Indonesia.

Korupsi di bidang pendidikan disebut-sebut juga berseliweran saat pengangkatan jabatan kepala sekolah, pengadaan sarana dan prasarana termasuk (seragam, buku, gedung, peralatan, laboratorium, dsb), penggunaan dana BOS, penerimaan siswa baru, undangan untuk memasuki PTN melalui jalur undangan, dan pengangkatan guru honorer menjadi CPNS

Berdasarkan data tersebut, bagaimana mungkin Indonesia bisa maju jika elite politiknya masih melakukan penyimpangan dan kurang disiplin serta kurang tanggung jawab. Untuk meniru sifat dan karakter Gareng apa perlu para elite yang koruptor dipatahkan kaki dan tangannya seperti wujud fisik Gareng yang selalu jujur, penuh tanggung jawab, dan santun.

 

*Dosen Universitas Esa Unggul Jakarta

 

News Feed