by

Kresna Jumeneng Ratu

*Kanti Walujo dan Ruslan Ramli

Agustus lalu, pihak Istana Merdeka menggelar pertunjukan wayang kulit dengan lakon Kresna Jumeneng Ratu (Kresna menjadi Raja).  Pergelaran wayang ini didalangi Ki Manteb Sudarsono sebagai rangkaian peringatan HUT ke-47 Republik Indonesia. Sebetulnya Istana Negara sudah lama sekali tidak menyelenggarakan pergelaran wayang kulit.

Ki Manteb Sudarsono asal Sukoharjo dikenal sebagai “dalang setan” karena kemampuan sabetannya  saat beraksi. Mantan Menteri Penerangan Budiardjo memberikan julukan “dalang setan” pada 1987 karena kagum dengan sabetan Ki Manteb yang bisa memutar-mutar beberapa tokoh wayang sekaligus. Tidak semua dalang terkenal mampu menggerakkan wayang khususnya sabetan.

Sejak kecil ia mengenal wayang karena kakek maupun orang tuanya juga menjadi dalang terkenal. Dalang yang sudah berusia 71 tahun ini sudah puluhan tahun mendalang baik dalam negeri maupun luar negeri. Ia pernah mendalang di Amerika Serikat, di Inggris, Spanyol, Jerman, Jepang, Suriname, Belanda, Perancis, Belgia, Hungaria, dan Austria.

Lakon yang dipilih sang dalang adalah Kresno Jumeneng Ratu. Lakon ini cukup terkenal  dalam cerita Mahabharata yang aslinya berasal dari India. Kresno adalah putra kedua dari Basudewa, Raja Mandura. Kresno punya dua saudara yaitu Baladewa dan Rara Ireng. Ketika muda Kresna bernama Narayana, setelah dewasa ia menjadi raja besar di Mandura. Sedangkan Baladewa meneruska tahta ayahnya menjadi Raja mandura. Sedangkan Rara Ireng menjadi istri Arjuno.

Nayarono keluar istana dan pergi mengembara, akhirnya ia   mengikuti pertandingan gulat yang diselenggarakan Kangsa di kerajaan Mandura. Setelah mengalahkan para pegulat Kangsa, Kresna menggulingkan kekuasaan Kangsa sekaligus membunuhnya. Kresna menyerahkan tahta kepada ayah Kangsa, Ugrasena sebagai raja para Yadewa. Ia juga membebaskan ayah dan ibunya yang dikurung oleh Kangsa. Kemudian Kresno menjadi Pangeran di Mandura.

Tokoh Kresno dalam hidupnya mempresentasikan filosofi  memayu hayuning bawono, yang berarti  manusia sebagai mahluk YME harus menjaga keharmonisan dan keselamatan  di dunia. Kresno sangat sakti dan cerdas. Beliau memiliki pusaka Cakra Baskara (kesaktian yang tak tertandingi) dan pusaka Kembang Wijayakusumo, yang dapat menghidupkan orang mati sebelum waktunya, serta memiliki pusaka Kaca Paesan (mampu melihat sesuatu yang belum terjadi).

Kresno punya banyak nama sesuai dengan karakteristiknya (Wilkipedia), antara lain Acyuta (kekal dan teguh),  Arisudono (penghancur musuh), Bagawan (Yang Maha Kuasa), Gopala (pelindung sapi), Gowinda (pengembala sapi), Hresikesa (penguasa indria), Janardono (juru selamat umat manusia), Kesawa (yang berarbut indah), Kesinisudono (pembunuh raksasa Kesi). Madawa (suami dewi   keberuntungan); Madusudana (pembunuh raksasa Madhu); Mahabahu (yang berlengan perkasa); Mahayogi (rohaniwan agung); Purusottama (manusia utama, yang berkepribadian paling baik); Warsneya (keturunan Wresni); Basudewa; Wisnu; Yadawa (keturunan Yadu); Yogeswara (penguasa segala kekuatan batin).

Titisan Wisnu ini memimpin negaranya dengan penuh bijaksana, adil dan makmur. Ia selalu melindungi sepupunya Pandawa yang berperang melawan sepupunya sendiri yaitu Kurawa. Dalam perang Bharatayuda, Kresno bertindak sebagai penasihat dan pengatur strategi perang agar Pandawa bisa mennng.

Ketika menghadapi perang Bharatayuda, Arjuno sempat tidak bersemangat, badannya lunglai, pikirannya kacau karena dia tidak tega berperang melawan guru-gurunya  yang dia hormati dan sayangi seperti Resi Bisma dan Resi Durno. Padahal Arjuno merupakan jago andalan Pandawa untuk melawan Kurawa.

Untung Kresno cepat memberikan nasihat kepadanya agar Arjuno bangkit kembali. Nasihat Kresno ini terkenal dengan sebutan Bhagawatgita yang artinya nyanyian sang Bagawan (orang suci). Bhagawatgita ini bagian dari Mahabharata dalam bentuk dialog antara Kresno dan Arjuno dalam menghadapi perang Bharatayuda.

Kreno titisan Dewa Wisnu mampu menjelaskan pada Arjuno tentang arti hidup di dunia ini dan alam sekitarnya di mana manusia selalu berinteraksi antar sesama mahluk dan berinteraksi dengan yang memberi hidup. Akhrnya Arjuno sadar dan siap bertempur walaupun harus berhadapan dengan guru-gurunya yang telah berjasa padanya. Dia yakin bahwa perang ini untuk membela kebenaran. Dengan strategi Kresno, Arjuno mampu mengalahkan Resi Bisma dan Resi Durno..

Setelah memahami hebatnya Kresno dalam memimpin negara maupun mengatur strategi perang, maka apa makna dalam lakon Kresno Jumenenng Ratu yang dimainkan Ki Manteb Sudharsono dalam peringatan kemerdekaan RI ke 74 tahun di Istana Negara.

Harapan ki Manteb Sudarsono, Prabu Kresno dapat memberikan dorongan dan contoh kepada Presiden Jokowi yang terpilih sebagai Presiden jilid 2. Masyarakat luas tentunya mengharapkan pada jabatan tersebut pak Jokowi lebih serius membahagiakan rakyat Indonesia dengan bijak dan adil seperti Kresno. Amin.

 

*Dosen Universitas Esa Unggul, Jakarta

 

News Feed